Saturday, April 20, 2013

Something called Love

Mungkin bagi teman-teman terdekat saya mereka sudah tau apa yang akan saya tulis ini.
Sedikit kisah tentang bagian terindah dalam hidup saya, keputusan yang tidak mudah untuk diambil tapi keputusan tertepat yang pernah saya lakukan tanpa penyesalan.

Keputusan itu adalah ketika saya memutuskan menikah dengan suami saya di usia yang ke-22 (yup... bagi perempuan generasi saya usia 22 menikah itu tergolong muda...bangettttttt)

Bahkan keputusan saya ini bikin heran hampir semua orang. Kenapa san? Cepet amattttt...

Ketika papa saya di konfirmasi sama sodara-sodara nya dia hanya berujar, "tau tuh, tanya aja si swat ching (my mom)" jadi tuh si papa kaya ga percaya plus ga mungkin plus denial hahaha yang ternyata ga lama setelah itu lamaran keluarga digelar.

Beberapa teman terdekat saya pun menanyakan hal serupa (well pertanyaannya lebih brutal)
"lu gila san? baru kenal berapa bulan."
"san cita-cita u jadi wanita karir mau dikemanain?"
"san beda umur nya jauh banget eh busetttt"
dkk lainnya.

Saya dan suami memang memiliki beda usia yang jaohhhh... yaitu 16 tahun. Yang kini beda usia itu yang jadi bahan becandaan kami. Kami selalu membayangkan saat si koko (that's how I call my hub) SMA saya baru lahir! Bahkan kalau becandaan ekstrim saya suka bilang si koko pedofil hahahaha..

That's us... Pasangan suami istri yang full of laughter.


Kalau mau dibilang kami saling melengkapi, ya banget. Kepribadian saya dan suami tuh beda banget. Bertolak belakang abis. Saya extrovert, bawel, blak-blakan - sedangkan koko tipe pendiam, sopan banget, dan kalem. Tapi itu yang bikin kita just klik.

Mungkin bagi sebagain teman saya berpikiran kenapa saya memilih koko menjadi pendamping hidup saya. Kenapa saya rela mengubah impian saya deminya.

Yup, banyak pertimbangan, positive and negative tapi setelah semua pertimbangan dipikirkan saya percaya dan yakin. Hanya koko yang bisa membuat saya menjadi manusia lebih baik.


Koko memang bukan pria terganteng yang ada di muka bumi ini, dia juga bukan pria yang memiliki abs bahkan he is my chubby hug-able bear ever. Tapi dialah satu-satunya pria yang bisa membuat saya menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya dan hanya dia yang mencintai saya apa adanya. Tidak pernah repot soal saya makeup-an apa ga, tidak pernah repot sama lemak-lemak yang glambyar glembyer after giving birth. He just love me unconditionally and I know that.

Mungkin itu inti yang bisa saya bagi disini, ketika teman-teman sekalian sedang dalam kegalauan memilih pasangan hidup maka pilihlah seseorang bukan berdasarkan mana yang lebih baik, tetapi mana dari mereka yang bisa menjadikan ku manusia yang lebih baik. 

Memang tidak dipungkiri selama hampir 3 tahun menikah dan 4 tahun bersama memang ada saat-saat dimana kita saling bete karena masing-masing habit yang bikin esmosi hehehe. Tapi balik lagi setiap pribadi itu ga ada yang sama, mau dicocok-cocokin kaya apa juga ga akan bisa cocok kaya lem. Tapi dibalik setiap suami istri wajib ada rasa saling mengerti, saling mengisi, dan saling menyayangi agar semua ketidak cocokan tidak dirasakan.


A letter for you hub,

Berkat koko yang terus membimbing aku, kini akutelah menjadi seorang Ibu dari gadis lucu kita yang pintar dan cantik banget, si Abigail Audrey.

Berkat koko akubisa menjadi orang yang jauh lebih penyabar.

Berkat koko aku bisa menjadi seorang yang jauh lebih telaten dan resik dari sebelumnya.

Koko must have heard the words I LOVE YOU so often but you rarely hear "THANK YOU for letting me be part of your life. Let's live the rest of our life together, forever"

xoxo, 
Sanny



No comments:

Post a Comment